
Ngabang, MAN LANDAK. Di tengah dunia yang semakin sibuk dengan notifikasi gawai, drama media sosial, dan perlombaan siapa paling cepat mengeluh, ada pemandangan yang cukup “mengganggu kenyamanan” kemalasan generasi muda. Pemandangan itu datang dari kegiatan Pesantren Ramadhan 1447 H yang dilaksanakan oleh MAN Landak di Masjid Muhajirin pada tanggal 23–27 Februari 2026.
Ya, di saat sebagian orang mungkin berpikir Ramadhan hanya soal menahan lapar sambil menunggu waktu berbuka, para siswa di madrasah ini justru memilih cara yang sedikit lebih “radikal”: mengisi waktu dengan ilmu, ibadah, dan kebersamaan. Sebuah konsep yang tampaknya sederhana, namun diam-diam sangat luar biasa.
Kegiatan yang diketuai oleh Wahyudin, S.Kom.I ini menghadirkan rangkaian aktivitas yang tidak hanya menenangkan hati tetapi juga mencerdaskan pikiran. Setiap pagi hingga menjelang sore, Masjid Muhajirin dipenuhi lantunan Tadarus Al-Qur’an yang mengalun khusyuk. Bukan sekadar membaca, tetapi belajar memahami makna—sebuah kebiasaan yang mungkin terdengar klasik, namun justru itulah sumber kekuatan peradaban.
Belum cukup sampai di situ. Para peserta juga melaksanakan shalat berjamaah, sebuah aktivitas sederhana yang diam-diam melatih disiplin, kebersamaan, dan rasa tanggung jawab spiritual. Ironisnya, sesuatu yang tampak “biasa” ini sering kali justru paling sulit dilakukan secara konsisten.
Agar suasana tidak terlalu serius—karena belajar agama bukan berarti kehilangan keceriaan—panitia juga menghadirkan kuis keagamaan yang memancing semangat para siswa. Tawa, semangat kompetisi, dan diskusi ringan pun mewarnai kegiatan tersebut. Di sela-sela itu, para peserta mendapatkan tausiah agama yang membuka wawasan tentang makna Ramadhan, akhlak, serta pentingnya menjadi generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter.
Dan akhirnya, setelah hari-hari diisi dengan ibadah dan ilmu, kegiatan ditutup dengan momen yang selalu dinanti: buka puasa bersama. Bukan sekadar menikmati hidangan setelah menahan lapar, tetapi sebuah simbol kebersamaan, persaudaraan, dan rasa syukur.
Pesantren Ramadhan ini seolah menjadi pengingat halus—bahwa di tengah dunia yang sering ribut dengan hal-hal sepele, masih ada generasi muda yang memilih untuk belajar, memperbaiki diri, dan mendekat kepada Tuhan.
Sebuah kegiatan sederhana, namun dampaknya bisa jauh lebih besar daripada sekadar lima hari di bulan Ramadhan. Karena sejatinya, dari masjid-masjid seperti inilah lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak. Dan jika itu terus tumbuh, masa depan tentu punya alasan kuat untuk tetap optimis.



